Mempertemukan Yang Tersebar
filed in Story on Oct.07, 2008
Ada ungkapan yang mengatakan:
Dunia Tak Selebar Daun Kelor
Untuk beberapa kondisi pernyataan tersebut bisa menjadi sangat benar tapi untuk Komunitas Sasak rasanya ungkapan tersebut tidak selalu benar.
Berawal dari wacana di milis Komunitas Sasak (KS) berkaitan keinginan anggota milis untuk bertemu alias kopi darat antara anggota yang satu dengan yang lain karena selama ini hampir seluruh komunikasi hanya terjadi di dalam milis saja.
Berdasarkan rencana tersebut, singkat cerita pada tanggal 29 September 2008 diadakan rapat kecil di Mataram Mall II untuk menentukan tempat dan jadwal kegiatan, dihadiri oleh Miq Basri, Miq Nazar, Miq Nofian, Miq Novi, Miq Wharid, Miq Zainal, Miq Githo, Dende Lastri dan saya. Ahirnya disepakati tanpa kehadiran saya karena beberapa alasan yang membuat saya jadi datang amat sangat terlambat acara akan diadakan pada tanggal 4 Oktober 2008 bertempat di Pondok Tetebatu. Saya tidak secara urut menceritakan jalannya acara Kopdar Raya Komunitas Sasak, sedikit cerita tentang kegiatan dapat dibaca di blog-nya Miq Wharid.
Yang akan saya angkat dari cerita kopdar adalah yang hubungannya dengan ungkapan seperti di awal tulisan ini. Ternyata acara Kopdar Raya Komunitas Sasak ini sedikit mematahkan ungkapan tersebut, kenapa saya bilang demikian? Karena dari acara tersebut ternyata beberapa dari peserta yang hadir memiliki keunikan cerita masing-masing tentang “Sebuah Pertemuan”.
Cerita pertama dimulai dengan kisah saya dengan Lastri sesaat setelah rapat di Mataram Mall. Sambil menemani Lastri menunggu jemputan oleh kakaknya yang juga lagi on the way menjemput ibunda Lastri, banyak cerita yang kami bahas sampai ahirnya terkuak sebuah fakta (atau kebetulan??) bahwa ternyata Lastri adalah teman sekampus dengan sahabat saya. Sejak mengetahui hal itu pembicaraan jadi tambah meluas dan ahirnya memutuskan untuk berkunjung ke rumah Ayik, sahabat saya tersebut.
Cerita kedua datang dari pasangan Githo dan Miq Nazar, menurut cerita dari Aden Githo mereka berdua ini adalah tetangga satu kampung. Walaupun kadang bertemu saat keduanya sedang di kampung halaman tapi sebelumnya mereka tidak pernah bertegur sapa, tapi alhamdulillah melalui Komunitas Sasak kedua semeton tersebut ahirnya menjadi akrab antara satu dengan yang lainnya.
Yang ketiga datang dari kisahnya Miq Mujitahid dengan keponakannya yaitu Miq Wharid. Setelah 32 tahun meninggalkan gumi sasak untuk sukses di luar, ini baru pertama kalinya Miq Muji bertemu dengan keponakan dan cucu beliau tersebut. banyak cerita yang mengawali serta alasan yang disampaikan sesepuh di Komunitas Sasak ini sebagai pembelaan dirinya, hehehe.. Maap Miq Muji.
Yang terakhir kembali cerita tentang saya, tapi kali ini dengan Miq Wharid. Usai seluruh rangkaian acara di Pondok Tetebatu, saya dan Githo kembali ke Mataram. Sesuai rencana awal pulangnya mampir mengunjungi teman-teman di Praya. Saat di Praya Githo mengusulkan untuk mengunjungi rumah Miq Wharid dah ahirnya dia memutuskan untuk menelpon yang bersangkutan untuk mengetahui alamat tempat tinggal Miq Wharid.
Setelah menerima perkiraan lokasinya di sekitaran SMPN 2 Praya, saya tanya ke teman-teman siapakah yang bernama Wharid di seputaran SDN 4 Praya, tempat saya melanjutkan sekolah dasar kelas 5 sampai kelas 6. Dan ternyata, Miq Wharid adalah kakak kandung dari Pram, teman SD saya.
Selain 4 kisah yang saya ceritakan di atas tentunya masing-masing peserta yang hadir memiliki kisah uniknya sendiri. Dari sebuah komunitas maya bernama Komunitas Sasak ternyata kini telah menjadi sebuah wadah yang bisa mempertemukan yang tersebar.
Alhamdulillah, semoga tahun berikutnya bisa lebih ramai..














October 23rd, 2008 on 7:07 pm
Hi hi hi hi tau ga yus, si “eneng”-mu itu ternyata ****** ku… hi hi hi hi dunia emang tidak selebar daun ketujur
October 28th, 2008 on 8:37 am
waduh, gitu ya.
selamat dah
October 28th, 2008 on 8:39 am
benar sekali miq yushi.. tak kenal maka tak sayang..
saya juga baru tau Aden… karena selama ini selalu merantau dan jarang pulang..
ternyata Aden teman kelas adik saya di SD.
alahmadulillah selalu ada hikmah di dalam silaturrahmi…