SOEMPAH PEMOEDA

PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH-DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

KEDOEA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

KETIGA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Demikian petikan dari teks sumpah pemuda yang 80 tahun lalu dikumandangkan oleh tokoh-tokoh pemuda Indonesia. Terasa begitu penuh keyakinan untuk pencapaian pada masa yang akan datang.
Namun kini setelah 80 tahun berlalu harapan yang dulu seolah ikut memudar seiring bertambahnya waktu. Yang paling sering terdengar adalah pesimisme dari sebagian orang yang selalu mengatakan “Namanya juga Indonesia”, “Biasa ciri-ciri orang Indonesia”, dan lain-lain. Lebih parahnya lagi yang mengucapkan adalah orang yang benar-benar asli, lahir, besar, hidup bahkan mencari nafkah hidup di negara yang mereka selalu remehkan.

Dahulunya berjanji bertumpah darah dan berbangsa satu sekarang pada ribut, tawuran antar kampus, tawuran antar kampung, tawuran antar pendukung sepak bola, menggebu-gebu ingin memisahkan daerah mereka dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dahulu yang berjanji menjunjung tinggi Basaha Indonesia kini lebih nyaman jika menggunakan bahasa asing padahal lawan bicaranya sendiri adalah orang asli Indonesia.

Melanjutkan harapan Sumpah Pemuda, secara pribadi belum banyak yang telah saya perbuat. Tapi paling tidak belum pernah terlintas di dalam pikiran saya untuk tidak mengakui dan bangga bahwa Indonesia adalah “TUMPAH DARAH KU”.
Melalui kesempatan ini, sebagai pemuda Indonesia marilah bersama kita berusaha tingkatkan rasa nasionalisme kita kepada bangsa dan tanah air kita Indonesia, jangan cepat putus asa dengan keadaan bangsa yang memang sedang berusaha bangkit tapi marilah kita ikut berpartisipasi mulai dari hal yang kecil untuk ikut mewujudkan kebangkitan bangsa.

Ahirnya “Selamat Hari Sumpah Pemuda”

Share This Post
BlogLines del.icio.us Digg Facebook Google Google Reader Netscape reddit Technorati