Merasakan Jadi Korban Banjir
filed in Story on Jan.11, 2009
Bencana banjir yang biasanya hanya bisa saya lihat dalam tayangan berita di televisi ahirnya saya lihat langsung dan menalaminya sendiri. Sabtu, 10 Januari 2009, banjir merendam beberapa daerah di Kota Mataram, salah satunya adalah kompleks perumahan yang sudah puluhan tahun saya dan keluarga tempati.
Hari Jumat, 9 Januari 2009 setelah magrib hujan sudah mulai mengguyur Kota Mataram disertai dengan angin kencang. Akibatnya keesokan pagi nya air sudah mulai menggenangi dbeberapa daerah. Semakin menjelang siang air bukan semakin surut malah tambah meluap. Penyebabnya debit air yang begitu besar tidak bisa diteruskan ke laut karena pada waktu yang hampir bersamaan dengan hujan hari kemarin menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) posisi bulan sedang berada pada titik terdekat dengan bumi sehingga mengakibatkan air laut pasang karena pengaruh gravitasi bulan yang lebih besar dari biasanya.
Ternyata kesibukan yang terlihat di televisi sempat juga saya alami, mengevakuasi beberapa barang milik pribadi dan tetangga yang habis terendam banjir, menyelamatkan dengan memindahkan ke tempat yang lebih tinggi dan membuat tanggul penahan air dari pasir yang dimasukkan ke dalam karung. Benar-benar terasa suasana bingung dan sebagian orang panik karena baru pertama kali mengalami kejadian banjir seperti ini.
Menghdapi kejadian luar biasa seperti ini Wali Kota dan Wakil Wali Kota Mataram langsung turun ke lokasi banjir terparah di kawasan pemerintahan Kota Mataram, dan secara kebetulan juga dua daerah tersebut adalah merupakan basis pendukung kedua orang nomor satu di Kota Mataram tersebut, yaitu Sekarbela dan Pesongoran. Beliau berjanji akan membangun tiga lokasi posko bencana dan saat itu juga sejumlah bantuan langsung dialirkan.
Namun menurut pantauan yang saya dan beberapa anggota dari Honda Vario Owner Club (HVOC) Lombok 1 hari berikutnya, air di semua daerah banjir telah surut, dan tidak seperti janji karena kami hanya menemukan satu saja posko bencana yaitu di Masjid yang berlokasi di Sekarbela.













January 28th, 2009 on 11:26 pm
Secara keseluruhan blogmu Kereennn.Secara aku ndak punya Blog:(
Perubahan cuaca yang sgt Unpredicteble mermbuat semua org jadi bnr2 Kget ngalamin musim di taun ini.Yaa…Mudh2an ini terjadi hany dalam wkt yng singkatdan sekali aja.Gak jauh beda sama Jakarta yang langganan banjir baik musim hujan maupun musim Duren.Eh..mksdnya musim di luar Hujan.Aktivitas terhambat,Akses Closed semua.Bete gak sich?Padahal…Semua tetap harus berjalan,Even Days are Rainy.Kesal campur Susu,Eh maksudnya kesal campur Geram!Di balik semua itu kyknya semua ini pun terjadi dgn adanya campur tgn Manusia yang meng-Exploitasi alam secara Besar2-an…Oh God…We’re Sorry…
February 12th, 2009 on 12:20 am
Waduh Mas.. saya ikut prihatin. Alhamdulillah saya blm pernah mengalaminya. Tapi dulu hampir sih waktu di Pekanbaru. Airnya hampir masuk ke dlm rumah.
Kebetulan yg ada semen dan bata krn lg renovasi rumah.
Sekarang gmn keadaannya udah baik kan?
Di Semarang malah bandara sama stasiun terendam banjir
Ya gitulah kesadaran masyarakat masih kurang trus jg pertambahan penduduk ga seimbang sama fasilitas yg di sediakan pemerintah.
February 12th, 2009 on 1:23 pm
thx ya
mungkin teguran dari yang di Atas juga ya supaya bisa berbenah menjadi lebih baik lagi
March 10th, 2009 on 3:57 pm
Great post…..bookmarking your website…
Thanks
*numpang lewat yeee….*